{"id":207,"date":"2022-12-09T06:26:18","date_gmt":"2022-12-09T06:26:18","guid":{"rendered":"https:\/\/bte-jkt.telkomuniversity.ac.id\/?p=1566"},"modified":"2022-12-09T06:26:18","modified_gmt":"2022-12-09T06:26:18","slug":"perkembangan-metaverse-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bte-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/perkembangan-metaverse-di-indonesia\/","title":{"rendered":"PERKEMBANGAN METAVERSE DI\u00a0INDONESIA"},"content":{"rendered":"<figure class=\"wp-block-image is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/techsquad4.files.wordpress.com\/2022\/10\/image-2.png?w=1024\" alt=\"\" class=\"wp-image-35\" width=\"466\" height=\"262\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metaverse saat ini menjadi topik hangat yang dibicarakan dibeberapa negara. Terlebih usai CEO Facebook yaitu Mark Zukerberg resmi mengubah nama dari Facebook menjadi Meta pada Oktober 2021 lalu. Istilah Metaverse sendiri berasal dari seorang penulis yang bernama Neal Stephenson yang menyebut istilah tersebut pada novelnya yang berjudul&nbsp;<em>Snow Crash<\/em>&nbsp;di tahun 1992. Istilah Metaverse sendiri merujuk pada dunia virtual 3D yang dihuni avatar orang sungguhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi Metaverse ialah sebuah dunia virtual berbasis 3D, dimana tempat kehidupan sehari-hari dan kegiatan ekonomi dapat dilakukan melalui avatar virtual yang menggantikan seseorang dalam kehidupan nyata. Secara teknologi Metaverse terdiri dari tiga komponen gabungan yaitu&nbsp;<em>Augmented Reality<\/em>&nbsp;(AR),&nbsp;<em>Virtual Reality<\/em>&nbsp;(VR), dan&nbsp;<em>Artificial Intelligence<\/em>&nbsp;(AI). <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Definisi singkatnya,&nbsp;<em>Augmented Reality<\/em>&nbsp;(AR) adalah teknologi yang menggabungkan objek virtual kedalam dunia nyata lalu memproyeksikan objek-objek tersebut secara realitas dalam waktu yang sama. Kemudian&nbsp;<em>Virtual reality<\/em>&nbsp;(VR) adalah teknologi yang mampu menciptkan dunia 3D secara nyata, sehingga pengguna dapat merasakan seperti didalam dunia nyata akan tetapi kenyataannya sedang berada di dunia virtual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk menciptakan dunia Metaverse tersebut, teknologi AR dan VR harus didukung oleh&nbsp;<em>Artificial Intelligence&nbsp;<\/em>(AI) yang merupakan sebuah sistem komputer yang diprogram untuk berpikir layaknya manusia.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/techsquad4.files.wordpress.com\/2022\/10\/foto-metaverse-1.jpg?w=700\" alt=\"\" class=\"wp-image-27\" width=\"503\" height=\"283\"\/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Contoh Meeting Di Dunia Metaverse<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metaverse akan berkembang dan digunakan banyak karyawan kantoran. Menurut Gates aktivitas rapat kantor di dunia virtual Metaverse tidak lama lagi akan terjadi. Ini situasi yang akan sangat menguntungkan bagi karyawan yang melakukan kerja jarak jauh. Prediksi tersebut tertulis dalam blog Bill Gates. Sementara itu, di Metaverse, seseorang nantinya bisa memiliki avatar 3D yang dapat menghadiri rapat di ruang kantor secara virtual atau keperluan lain. Menariknya, avatar tersebut dapat saling berinteraksi dengan avatar lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAnda bisa menggunakan avatar untuk bertemu dengan orang lain di ruang virtual yang bisa menggambarkan perasaan ketika berada di ruangan tersebut bersama orang lain,\u201d tulis Gates. Namun kemudian Gates menambahkan, pengguna harus memakai headset dan atau kacamata&nbsp;<em>virtual reality<\/em>&nbsp;untuk bisa melakukannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metaverse pada crypto, perusahaan crypto,&nbsp;<em>game online<\/em>, dan aset digital secara umum diuntungkan dengan adanya penerapan revolusi teknologi satu ini. Salah satu contoh pengaplikasian Metaverse dalam crypto adalah berupa platform&nbsp;<em>game online<\/em>&nbsp;dan pasar yang menggunakan non-fungible token, atau NFT, sebagai token dan koleksi dalam game.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejumlah besar token yang berada di&nbsp;<em>blockchain Ethereum<\/em>&nbsp;dan juga akan meningkatkan token ethereum. Selain itu, salah satu pengaruh Metaverse pada aset kripto terjadi pada platform aset kripto seperti&nbsp;<em>Coinbase Global&nbsp;<\/em>(COIN).&nbsp;<em>Coinbase<\/em>&nbsp;adalah satu platform aset kripto terbesar di Amerika Serikat dan terbesar kedua secara global. Dengan basis pengguna 68 juta serta upaya untuk menciptakan pasar NFT,&nbsp;<em>Coinbase<\/em>&nbsp;diposisikan di ruang yang optimal dalam konversi Metaverse.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metaverse dan NFT, metaverse memungkinkan pengguna menampilkan bentuk digital dari seni dan properti. Sementara, NFT memungkinkan pengguna untuk memberi harga pada konten tersebut dengan bukti kepemilikan. NFT menggunakan teknologi&nbsp;<em>blockchain<\/em>&nbsp;yang sama dengan yang digunakan&nbsp;<em>cryptocurrency<\/em>, sehingga NFT tidak memiliki mata uang sendiri. Setiap NFT dilampirkan ke item tertentu. Item itu bisa berupa lukisan, konten video game, musik, atau apa pun yang dapat dilampirkan pada token tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berbicara tentang Metaverse di Indonesia, PT Telkom Indonesia kini menghadirkan ekosistem Metaverse pertama bernama Metanesia yang diambil dari akronim Metaverse Indonesia. Sebagai respon atas perubahan yang diharapkan pemerintah, Telkom melakukan pembaruan dalam satu kesatuan ekosistem baru pada Metanesia. Metanesia diharapkan untuk menjadi penghubung ekonomi digital Indonesia. Dimana dalam dunia Metaverse pengguna bisa saling bertansaksi menggunakan&nbsp;<em>blockchain<\/em>&nbsp;sebagai inti dari Metaverse.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/techsquad4.files.wordpress.com\/2022\/10\/image-4.png?w=650\" alt=\"\" class=\"wp-image-49\" width=\"471\" height=\"304\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Direktur&nbsp;<em>Strategic Portfolio&nbsp;<\/em>Telkom Indonesia, Budi Setiawan mengakui bahwa ia percaya Metaverse Indonesia akan menghadirkan peluang besar di masa depan. Menurutnya Metaverse menawarkan metode baru untuk menemukan pengetahuan yang lebih dalam dan menyebarkan pengetahuan yang nantinya dapat digunakan di bidang industri. Kemungkinan Metaverse di Indonesia baru akan optimal sekitar 5 -10 tahun kedepan, mengingat proyek Metaverse ini membutuhkan banyak pihak untuk membantu dalam mengembangkan teknologi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Nama Kelompok: TechSquad<br>Ketua Kelompok: M. Gani Fadiel (1101228086)<br>Anggota Kelompok:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Cindy Alfianita Hasibuan (1101228100)<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Muhammad Raihan Firdaus (1101228090)<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Setiawan Nuradli (1101228082)<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Zahra Ghina Salsabil (1101228101)<\/strong><\/li>\n<\/ol>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Metaverse saat ini menjadi topik hangat yang dibicarakan dibeberapa negara. Terlebih usai CEO Facebook yaitu Mark Zukerberg resmi mengubah nama dari Facebook menjadi Meta pada Oktober 2021 lalu. Istilah Metaverse sendiri berasal dari seorang penulis yang bernama Neal Stephenson yang menyebut istilah tersebut pada novelnya yang berjudul&nbsp;Snow Crash&nbsp;di tahun 1992. Istilah Metaverse sendiri merujuk pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"wds_primary_category":0,"_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"class_list":["post-207","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-info-lainnya-id"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bte-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/207","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bte-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bte-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bte-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bte-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=207"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bte-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/207\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bte-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=207"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bte-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=207"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bte-jkt.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=207"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}